Tertawa

                Kadang, aku hanya ingin berbagi dengan mereka bagaimana caraku menikmati dunia ini. Bagaimana aku tertawa ketika semua masalah seperti menyerbu ku tanpa peduli masalah lain yang telah lebih dulu menghampiriku. Aku ingin mereka tahu sehingga mereka tak lagi menangisi apa yang tak perlu ditangisinya itu.
                Tapi aku salah. Berbagi itu tidak selamanya baik.  Tidak semua orang dapat menerima caraku. Dimata mereka itu hanyalah sebuah kebodohan. Bodoh, mengapa kamu tertawa di saat seperti ini? Bodoh, mengapa kamu tidak prihatin dengan keadaanmu? Bodoh, ketika kamu terus menertawakannya tanpa berusaha menyelesaikan masalahmu.
                Kamu, selalu tertawa atas semua yang terjadi. Sampai kamu lupa bagaimana rasanya bersedih. Sampai kamu kehilangan empati dan simpatimu. Sampai kamu tidak ingat lagi apa makna dari kata peka. Sampai kamu tidak bisa membedakan makna air mata apa yang saat ini keluar dari matamu. Ujung matamu memang mengeluarkan bulir-bulir air mata, namun hatimu keras tidak dapat merasakan unutuk apa air mata itu. Antara selalu menikmati hidup dengan bodoh itu untukmu hanya berbeda tipis bagai selembar kertas saja.
                Aku bagai dihujani sebilah pisau. Kemudian disirami air cuka. Pedih. Namun aku tidak kunjung menangis. Aku ingin mereka tahu, tentang apa yang kurasakan saat ini. Ketika kalimat demi kalimat itu keluar menghujamku. Namun, sepertinya mereka benar. Aku bodoh. Bahkan aku tidak tahu pedih ku ini pedih yang bagaimana. Aku tidak lagi mengerti maksud dari perasaan yang ada di hatiku. Sekarang, aku malah merasa ada sesuatu yang menggelitik di perut ku, dan akhirnya seperti biasa, aku tertawa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketek Basah

Dika, tunggu Mas Adhit ya!

Tolong sadar, dan kejarlah! Larilah!