.

                Aku tidak tahu apakah setiap orang pernah merasakan sendiri. Merasakan keadaan dimana ia benar-benar tidak memiliki siapapun, bahkan ia tidak diharapkan oleh siapapun. Sampai akhirnya dia pun membenci keberadaannya di dunia ini. Dan menyesali kelahirannya di dunia.
                Aku ingin bertanya pada orang itu. Pada dia yang pernah terjebak dalam lubang hitam itu. Aku ingin bertanya bagaimana ia keluar dari semuanya. Bagaimana ia mengakhiri hidupnya yang tak diinginkan itu. Bukan! Bukan mengakhiri dengan cara menyerahkan nyawanya pada iblis, apalagi menghabisi nyawanya dengan sia-sia. Aku ingin hidup yang lebih baik. Itu maksudku. Tapi sepertinya, setiap kali aku menemukan seseorang yang kumaksud, nyatanya itu kutemukan hanya dalam sebuah tulisan. Tulisan kenangan yang sama sekali tak indah. Yang berisi semua penyesalan tentang hidup.
                Lalu pada suatu malam, malam yang sama seperti biasanya. Di bawah atap rapuh, dengan dinding yang mulai berlumut, hujan turun dengan deras. Air hujan yang tampak lemah itu berhasil menembus tumpukan batu-batu yang seharusnya lebih kuat dari sebuah air. Ia masuk perlahan, menembus, membasahi seluruh ruangan dimana aku sedang berpikir bagaimana hidupku kedepan. Air mulai menggenang setinggi mata kakiku. Perlahan naik, dan terus meninggi. Aku mendengar jerit orang di luar sana. Takut. Itulah yang kurasakan dari jeritan-jeritan itu.
                Gemuruh  petir seolah sedang mencambuk bumi dan membuatnya terbelah. Aku heran. Mengapa jiwa penakutku di saat-saat seperti ini sama sekali tidak muncul, setidaknya muncullah untuk membuatku berpikir berlari menyelamatkan diri seperti yang lainnya. Ah! Dia kan penakut, mungkin saja dia sudah bersembunyi terlebih dahulu.

Lalu, kali ini siapa yang ada pada diriku. Kenapa aku mendapati wajahku yang terpantul dari cermin sedang tersenyum, seolah-olah aku mendapatkan apa yang ku mau. Kemenangan mutlak. Kemudian, perlahan aku merasa tubuhku di tarik ke dalam air oleh sebuah tangan. Ketika aku menoleh kepada pemilik tangan itu, aku melihat satu tangannya mengacungkan ibu jari dan ia tersenyum persis seperti senyumku tadi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketek Basah

Dika, tunggu Mas Adhit ya!

Tolong sadar, dan kejarlah! Larilah!