[Tanpa Judul]

                Aku tahu, aku telah salah menyimpan rasa ini. Memendam hal yang tak harusnya ku tahu. Namun semua ini telah terlanjur. Aku telah terlanjur jatuh hati untuk pertama kalinya padamu. Pada jumpa pertama kita yang mungkin bagimu tak berarti apapun, namun lain bagiku, saat itu lah aku kembali tahu bahwa hatiku masih bisa berdegub lebih cepat dari biasanya.
                Bukan, bukan hari itu juga sebenarnya aku jatuh hati padamu. Aku tlah jatuh hati padamu sebelumnya. Saat aku mendengar mereka bercerita tentang mu, tentang betapa menyenangkannya kamu, tentang betapa ikhlasnya hatimu menerima setiap amanah dari Allah.
                Aku malu mengatakan ini. Aku bukanlah si pandai agama, apalagi ahli agama. Aku hanya makhluk ciptaan Allah yang masih saja sering terbuai dengan nikmatnya dunia. Ya, aku malu mengatakan bahwa aku takut jatuh dalam lubang dosa saat aku terus menyimpan rasa ini. Terdengar munafik, dan sok suci.  Tapi memang itu lah yang saat ini berkutat dalam pikiran ku.
                Pada satu sisi diriku, aku ingin terus menyimpan dan memiliki rasa ini. Rasa yang mampu mebuatku dengan tiba-tiba menjadi seorang pujangga, yang panda merangkai kata-kata cinta.  Tapi di sisi diriku yang lain, aku takut, aku takut akan murkaNya, aku telah bertindak lebih, jatuh hati padamu, memikirkan mu setiap saat, dan membayangkan kita berdua berjalan beriringan bersama.
                Kali ini ku lupakan ketakutan ku. Aku ingin bercerita tentangmu di mataku.
                Kamu, makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Ya, manusiakan memang makhluk ciptaanNya yang sempurna, jadi mengapa kita kadang masih sering mengeluh dengan apa yang telah diberikanNya. Sempurnamu bukan parasmu yang indah atau tubuhmu yang sigap bak seorang model. Bagiku, semuanya biasa saja. Tak ada cacat. Sama seperti yang lainnya. Ya, kamu biasa saja. Namun dari biasa saja itu lah yang berhasil memikatku.
                Kamu, memiliki senyuman yang sama seperti yang lain. Tapi entah bagiku ada sesuatu yang selalu membuatku senang melihatmu tersenyum. Aku selalu ingat bagaimana caramu tersenyum, kamu selalu tersenyum lebar menampakkan deretan gigimu, dan membentuk bulan sabit di sudut-sudut bibirmu. Saat tersenyum itu, matamu nyaris membentuk satu garis saja.
                Kamu, suara tawamu adalah suara yang paling kurindukan. Kamu memiliki tawa yang khas. Ya, kali ini kamu meiliki kekhasan. Tawamu selalu diiringi senyum lebar dan suara yang bagiku itu menggemaskan dan menyenangkan. Aku tidak bisa meggambarkan bagaimana tawamu, tapi aku bisa membayangkannya dan aku selalu tersipu setelahnya.
                Kamu, sosok seorang pria yang patuh pada perintahNya. Merdu suaramu saat membacakan ayat-ayat suci Al Quran. Sosok yang bijak, yang mampu merangkul seluruhnya. Sosok teman yang menyenangkan bahkan terlalu baik. Sampai kamu sulit untuk mengatakan tidak pada setiap permintaan tolong padamu.
                Kamu, kamu yang saat ini tengah berkutat dipikiranku. Yang selalu muncul di setiap saat.
                Aku sadar, aku telah terlalu jauh. Aku terlalu jauh menikmatimu. Aku sadar ini semua salah. Aku tahu ini semua harus segera dihentikan. Tapi, apa bisa hilang dan berhenti begitu saja jika kamu selalu muncul di hadapanku setiap waktu.

                Kadang aku ingin menyalahkanmu atas semua ini. Mengapa hadir jika akhirnya begini. Aku ingin mebuatmu hilang bersama rasa ini. Tapi... Ya, ini bukan salahmu. Ini salahku. Aku lah yang telah jatuh hati padamu terlebih dahulu tanpa kamu berbuat dan melakukan apapun. Aku lah yang telah melanggar semuanya. Padahal kamu hanya diam dan bahkan tak sadar akan hadirku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketek Basah

Dika, tunggu Mas Adhit ya!

Tolong sadar, dan kejarlah! Larilah!