Aku Ingin Kamu Mengenangnya
Tiba-tiba, aku kehilangan ide untuk menulis. Kertas putih itu masih sama saja seperti tadi, seperti awal aku membukanya hari ini. Apa yang harus kutulis hari ini? Rasanya hari ini sama saja seperti hari kemarin. Tidak ada yang spesial. Tapi...
"Tok. Tok. Tok."
Pintu kamarku diketuk pelan oleh seseorang di baliknya.
"Mave?" Suaranya terdengar lembut namun tidak membuat tenang hatiku, justru sebaliknya. Ku lihat kembali kertas itu masih tetap kosong, ku tengok pintu kamarku yang bergetar oleh ketukkan orang di baliknya.
"Mavey?" Ulangnya, mungkin karena aku tak kunjung menyahut.
Aku bangkit dari dudukku, menyimpan buku bersampul merah di balik bantal. Dan segera menuju pintu kamar.
"Ya?" Kataku pelan tertunduk setelah membukakan pintu kamar.
"Sudah selesai?" Tanyanya dan kakinya melangkah menuju tempat tidurku dengan kepala berputar melihat sekeliling kamarku.
"Aku—"
"Dimana kamu menyimpannya?" Belum sempat aku berkata, ia kembali bertanya, Dan kini tangannya mendekati bantal yang di bawahnya ku simpan buku bersampul merah tadi.
"Nesh," panggilku untuk mengalihkannya dari bantal itu.
"Ya?"
"Mmm..."
"Bicaralah yang sejujurnya Mavey..." Ah, dia memang selalu tahu apa yang terjadi denganku.
"Maaf. Aku tak menulis apapun hari ini." Kataku penuh penyesalan dengan kaki ku melangkah mendekati Ganesh.
"Lalu?"
"Ini." Aku memberikan buku bersampul merah itu pada Ganesh. "Rasanya aku tak sanggup jika harus mengisi buku itu setiap hari."
"Kenapa?"
"Hari-hariku selalu sama saja dengan hari-hari yang lalu, tak ada yang spesial." Jelasku apa adanya. Sementara Ganesh tengah mebolak-balikkan tiap lembar dari buku itu yang baru ku isi seperempatnya.
"Ya, tulis saja itu kembali. Tulis saja persis seperti apa yang kamu alami hari itu." Balas Ganesh yang membuatku berpikir bahwa tindakan itu tidak berguna sebenarnya.
"Kenapa harus sama persis? Kan lebih baik jika kita menulis apa yang spesial pada hari itu, benarkan? Karena menulis sesuatu yang spesial itu lebih menyenangkan."
"Hm... jadi menurutmu begitu?" Ganesh bertanya dengan menatap mataku. Matanya teduh dan menenangkan.
"Tentu saja." Jawabku tegas. "Dan sebenarnya untuk apa aku harus selalu menuliskan apa yang ku alami di hari-hariku pada buku itu?"
"Untuk kamu baca kembali suatu saat."
"Maksudnya?"
"Aku, kamu, mereka, siapapun makhluk fana di dunia ini, tidak tahu sampai kapan ingatanmu berfungsi. Jika tiba-tiba Tuhan mengambil ingatanmu, maka dengan buku ini kamu akan mengenal kembali siapa kamu, dan ada pada dunia mana kamu sebelumnnya."
"Masuk akal. Tapi kenapa harus semuanya? Bukankah cukup dengan menuliskan kebahagiaan dan sesuatu yang spesial saja? Jadi ketika ingatanku hilang, dan aku membaca buku itu, maka aku akan percaya bahwa hidupku sebelumnya sangatlah bahagia."
"Lalu, jika misalnya sesuatu yang buruk itu ternyata baik bagimu dan kamu tidak sempat menuliskannya, maka tetap tidak berarti bagimu?"
"Mmm... Ya, masuk akal."
"Hal sekecil apapun itu pasti memiliki dampak untuk hidupmu. Jadi jangan remehkan hal-hal kecil itu." Ganesh beranjak dari duduknya, dan meletakan buku bersampul merah itu di meja belajarku. "Ya sudah, aku keluar. Silahkan pikirkan kembali apa yang kita bicarakan. Aku tidak pernah memaksamu menulis, jadi itu pilihanmu."
Ganesh keluar dari kamarku dan menutup pintunya pelan.
Sepeninggal Ganesh, aku menatap cermin di depanku. Ada pantulan diriku. Aku mencoba mendekatkan kepalaku dan merabanya. Sudah mulai tumbuh kembali, dan masih tipis-tipis. Besok aku harus mencukurnya lagi karena ini menggelikan saat diraba. Hahaha, aku baru tahu ternyata ada kebahagiaan sendiri ketika aku bercermin sambil meraba-raba kepalaku yang botak. Geli dan lucu.
Ah, tunggu! Tadi apa? Kebahagiaan? Ya, benar kata Ganesh, hal kecil tidak bisa diremehkan, karena itu tetap memiliki dampak bagiku.
Aku tersenyum. Ku ambil buku bersampul merah itu, yang sebenarnya awal Ganesh memberikannya adalah berwarna putih. Namun berkat cairan yang menetes dari hidungku, kini buku itu bersampul merah, seperti warna kesukaanku. Buku itu kubawanya ke ranjang. Di ranjang aku mulai membuka lembar demi lembar. Sampai pada halaman kosong yang masih putih, dan otak-otakku mulai kembali memutar kejadian-kejadian hari ini.
Komentar
Posting Komentar