Naif
Aku
naif. Terlalu naif. Mencintai sesuatu yang sudah pasti tak akan ku dapatkan.
Mengharapkan sesuatu yang angka mustahilnya jelas seratus persen. Aku naif. Aku
memaksakannya. Walau aku tahu semua itu hanya akan berjalan dalam anganku.
Aku
merasakan sakit yang tak seharusnya aku rasakan. Tertawa karena sesuatu yang
tak nyata. Menangisi hal yang tak ada gunanya bagi hidupku. Yang hanya
mendatangkan sakit. Sakit yang begitu mendalam. Sangat dalam. Sangat sakit.
Sebuah
perpisahan yang tak pernah aku bayangkan. Ucapan kalimat ‘selamat tinggal’ yang
tak pernah ku bayangkan dapat sesakit ini. Benar-benar sakit tepat di dadaku,
yang kurasa seperti tusukan sebilah pedang yang ditusuk berkali-kali dan
lukanya dibiarkan terbuka menganga lebar. Malah semakin ditaburi dengan garam
yang menimbulkan rasa sakit ber del-del.
Ya,
aku kini tengah berdelusi. Aku gila.
Komentar
Posting Komentar