Menjadi Mahasiswa yang Sebenarnya





Sebenernya ini esai buat tugas yang harus dikumpulkan sebagai mahasiswa baru  di Universitas tempat belajar saya sekarang. 2 jam saya membuatnya, berusaha merangkai kata-kata terapik yang pernah ada. Dan tiba-tiba ketika saya membuka e-mail, ada informasi bahwa esai-nya ganti tema. Saya hanya berkata "Alhamdulillah... Terima kasih sudah memberi kesempatan pada saya untuk belajar lagi membuat esai. Alhamdulillah, terima kasih.". Mau dikata apa lagi, daripada mubadzir dihapus, lalu saya post di blog ini.
            
            Zaman semakin maju, teknologi semakin canggih, tapi mengapa moral bangsa semakin merosot dan memprihatinkan? Salah siapa? Salah pemerintah? Salah zaman? Salah teknologi? Atau salah bangsa?
            Ya, hal tersebut sangat memprihatinkan, dimana seharusnya kemajuan zaman dan teknologi harusnya diimbangi dengan meningkatnyanya moral, tapi ini justru sebaliknya. Masyarakat terlena dengan serba-serbi kemajuan dan kemudahan dunia, terlena dengan asyiknya dunia, hingga lupa dengan jati dirinya. Lupa akan siapa dirinya yang sebenarnya.
            Di sinilah harusnya mahasiswa yang selama ini diharapkan menjadi agent of change hatinya mulai tergerak untuk benar-benar bertindak. Bukan hanya omong kosong dengan menggembor-gemborkan kata-kata ‘hidup mahasiswa!’. Dan justru paling banyak menimbulkan kerusuhan.
            Bukan menyalahkan atau menyudutkan mahasiswa, tapi disini diharapkan mahasiswa benar-benar bertindak, melakukan sesuatu untuk kedepannya yang lebih baik. Dimana mahasiswa menjadi mahasiswa yang seharusnya. Terutama bagi mahasiswa kedokteran yang berfondasikan nilai – nilai kolegium, khususnya nilai religus dan moralis dalam menjalankan kehidupan sehari – hari.
            Cerdas saja tidak ada artinya. Seorang mahasiswa, utamanya mahasiswa kedokteran seperti yang disebutkan tadi, dalam bertindak harus selalu berlandaskan nilai religius dan moralis. Jangan sampai ia salah melangkah, apalagi dalam menghadapi fenomena bangsa ini, dimana moralnya semakin merosot. Atau dapat kita sebut dengan demoralisasi. Yaitu suatu kondisi penurunan moral bangsa akibat arus globalisasi yang semakin gencar dan tidak terkontrol serta akibat masuknya budaya barat yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
            Mahasiswa kedokteran diharapkan dapat menemukan pemecah masalah dari semua masalah bangsa ini dengan tetap berlandaskan nilai-nilai kolegium, agar tetap sejalan dengan jalan yang ditunjuki oleh Allah SWT, bukan jalan menyimpang yang justru menimbulkan masalah-masalah baru yang semakin sulit untuk ditemukan solusinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketek Basah

Dika, tunggu Mas Adhit ya!

Tolong sadar, dan kejarlah! Larilah!