Aku hanya ingin...


                Angin malam berhembus melalui celah-celah jendela kamarku. Tepatnya mungkin kamar kostku. Dengan luas yang hanya 3x2,5 meter. Sempit memang, tapi cukup bagiku ku yang hanya seorang saja di dalamnya. Aksen kamar ini masih sangat kuno tapi tidak ada unsur kejawen yang jatuhnya malah menjadi mistis. Tidak, tidak seperti itu.  Terdapat satu buah lemari, satu meja belajar, satu rak buku, dan satu tempat tidur tingkat.
                Aku tidak tahu apa yang akan aku ceritakan kali ini. Aku hanya sedang malas dan kesal saja dengan teman sebelah kamarku. Harusnya aku belajar. Ya belajar karena besok ada kuis. Tapi mereka, ya ‘mereka’ karena ada tiga anak, yang  sedang asik bergurau tanpa perasaan.
                “Anjiiiing!” Aku terus mengumpat.  Rasanya ingin ku maki mereka, tapi aku tidak enak.
                Ah sudahlah, percuma saja mengumpat. Mungkin kali ini aku akan bercerita tentang alasan ku lebih memilih kost dibanding di rumahyang padahal jarak dari rumah ke kampusku tak seberapa.
                Ya, rupanya ada alasan tersendiri. Bukan karena jarak atau apapun. Tapi karena aku memang tidak tahan dengan suasana rumah.
                Ayahku dan ibuku sudah lama berpisah. Sejak aku kelas XII. Mereka memiliki alasan sendiri untuk berpisah. Sebenarnya itu perpisahan yang sepihak. Karena ibu yang meninggalkan ku, ayah, dan adikku. Dia pergi bukan tanpa alasan. Aku tahu itu. Dia tidak tahan dengan sikap ayahku yang selalu menang sendiri dan menyudutkan ibu di setiap masalah.
                Aku maklum dia pergi. Tapi awal-awal saat kepergian ibu, ayah menjadi sering uring-uringan. Aku sempat dihajar oleh dia karena terus membela ibu. Tapi bagiku itu tak seberapa dengan perjuangan ibu selama 17 tahun membesarkanku dan bertahan dengan orang yang selalu menyakitinya.
                Aku selalu menangis, dalam tangisku aku selalu menyebut nama ibu. Aku marah waktu itu, marah dengan ayah. Karena ini semua adalah ulah ayah. Coba ayah lebih bersikap bijak, ibu tidak akan pergi meninggalkanku.  Tapi setelah ibu pergi, mengapa aku yang disalahkan? Aku memang melihat kepergian ibu dan diam tidak mencegahnya. Bukan berati aku kemudian rela. Aku menangis. Batinku bergejolak. Aku ingin ibu di sampingku. Tapi… tapi aku lebih baik jauh dari ibu daripada harus kehilangan dia selamanya.
                Sikap ayah terhadap ibu memang terlalu, ibu pernah mencoba bunuh diri karena  tidak kuat dengan sikap ayah. Maka dari itu, sudah ku katakan, aku lebih baik jauh dari ibu tapi ibu tetap hidup dari kehilangan dia selamanya.
                Semenjak itu aku terus mengutuk ayahku. Aku tidak tahan dengan sikapnya hingga akhirnya aku lebih memilih tinggal di kost. Karena toh untuk apa aku di rumah bila tidak ada ibu. Yang kucari pertama kali sesaat setelah aku pulang dari sekolah adalah ibu.  Semua ibu. Aku hanya ingin ibu.
                Kini 2 tahun sudah setelah semua itu terjadi. Setelah ibu pergi. Dan aku tidak pernah kembali ke rumah. Ayah sudah banyak berubah, tapi toh percuma. Ibu sudah tidak ingin kembali padanya. Dia terlalu takut untuk kembali. Dia trauma dengan sikap ayah. Walau ayah sudah berubah tetap saja aku tidak nyaman dengan suasana rumah tanpa ibu.
                Kini aku hanya berharap dapat menyelesaikan kuliahku. Saat ini aku kuliah di fakultas kedokteran gigi di Universitas Airlangga. Biaya kuliah ku dapat dari ayah, yah dia masih bertanggung jawab untuk pendidikanku. Dan uang makan aku dapatkan dari ibu. Untuk keperluan lain, aku membuka les mata pelajaran kimia untuk anak SMA di sekitar rumah kost ku saja.
                Aku selalu membayangkan di saat aku diwisuda kedua orang tua datang bersama-sama. Senyum meraka mengembang, dan tidak ada masalah ini. Mereka terlihat mesra dan akur. Dan saat namaku dipanggil sebagai lulusan terbaik, aku ingin melihat air mata bahagia mengalir dari mata mereka dan mereka saling berpelukkan bahagia.
                Aku ingin sekali ketika aku berdiri di atas podium aku berkata, “dan semua ini saya persembahkan untuk ibu dan ayah saya yang selalu ada di samping saya dan memberikan segalanya yang terbaik penuh dengan cinta dan kasih sayang. Ibu, ayah, aku sayang kalian…”
               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketek Basah

Dika, tunggu Mas Adhit ya!

Tolong sadar, dan kejarlah! Larilah!