Ibu. . .
Rasanya
seperti kehilangan semuanya saat orang yang kusayangi pergi. Yah, dia pergi.
Walau tidak selamanya, tapi tidak ada dia di sisiku. Aku bagai orang lemah
tanpanya. Air mataku masih terus membanjir dan entah kapan akan berhenti.
Mungkin tidak berhenti, tapi tergantikan dengan darah yang mengalir.
“Ibuuu…”
Ku sebut namanya dalam tangisku.
Ibuku
pergi meninggalkanku di rumah setan ini. Tidak, dia tidak jahat sedikitpun.
Egoispun tidak. Aku maklum, dia juga sama stressnya seperti aku, tapi dia lebih.
Bagaimana
tidak, setiap harinya dia harus mendengar cacian dan hinaan dari laki-laki yang
sempat ku sebut ‘bapak’. Tidak hanya itu, tidak jarang laki-laki yang sempat ku
sebut ‘bapak’―yang kini telah menjelma sebagai
iblis― menyiksanya dengan pukulan atau sekedar
tamparan. Aku diam melihat hal itu, tapi mentalku entahlah…
Gadis berkelakuan kasar dan bermulut kotor. Itu
image ku di sekolah. Semua
kulampiaskan di sekolah, tak peduli sudah berkali-kali teman mengingatkanku.
“Aaahh!!!
Anjing lo!” Teriak ku kesal saat mendengar iblis itu memaki ibuku. Yah,
akhirnya aku bertindak. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah muak dengan
kemunafikanku. Aku lelah harus terus berpura-pura manis di depan iblis itu.
“Kurang
ajar! Anak nggak tahu diri!” Jelas, orang tua manapun tidak akan terima dikatai
seperti itu oleh anaknya. Iblis itu pun marah, menampar mulutku. Kemudian
diambilnya sandal jepit yang dipakainya, lalu dipukulkan ke mulutku.
Batinku,
“sakit ini tak ada apa-apanya dibanding sakit yang dirasakan ibuku. Darah yang
mengalirpun tak ada gunanya untuk menggantikan darah yang dikeluarkan ibu
untukku.”
“Udah,
Mas! Cukup! Jenengan mbok jangan kayak gitu sama anaknya sendiri. Kasihan…”
Bela ibuku, dia menahan tangan iblis itu. Dan malah dia yang akhirya mendapat
pukulan.
Air
mataku mengalir, tak kuasa melihat betapa gigihnya ibu membela ku.
“Ah!
Dasar iblis! Mengaku orang paling baik, tapi kelakuannya seperti iblis. Iblis!
Anjing lo, babi!” Aku meracau tak jelas, semua kata-kata kasar yang selama ini
ku simpan saat di rumah akhirnya keluar.
Ah!
Muncul lagi! Bayang-bayang ibu lagi-lagi muncul, membuat tangisku semakin
pecah. Ibu yang dulu selalu membelaku kini sudah pergi, aku tahu dia tak tahan
lagi dengan hidupnya itu. Aku tidak menyalahkannya karena sudah meninggalkanku,
aku maklum. Tapi tetap saja, aku tidak bisa membayangkan hari-hariku tanpa
seorang ibu. Aku masih sangat membutuhkannya, kasih sayangnya, belaian
lembutnya, kata-katanya yang selalu menyemangatiku, dan semua tentangnya. Aku
masih butuh ibu…
Ibu… Dimana pun
engkau berada, semoga Allah selalu melindungimu. Aku sayang ibu, selalu sayang
ibu. [Btary]
Komentar
Posting Komentar