My Life [Part 4 : (Lagi-lagi Masih) Kartin's Day] = END


Balik dari kamar mandi gue langsung menuju kelas gue yang ada di lantai 2. Seperti tadi, gue harus mengangkat rok gue. Sumpah rasanya gue pingin nyopot ni rok dan lempar ke mukanya si Reres. Nggak tahu kenapa gue masih dongkol sama si Reres yang hobi banget meperin cowok. Ok, fine, cowok lain boleh, asal JANGAN LATIF! Gue cemburu, kampret!
“Assalamu’alaikum…” Kata gue lantang waktu masuk ke kelas. Di dalam kelas udah ada si Latif, Bagas, sama Reza. Mereka semua diam dan tetep anteng di depan laptop masing-masing.
Merasa dicuekin, gue membanting tubuh gue di kursi. (PERINGATAN! Bantingnya nggak beneran lho!). Dan sialnya kepala gue kepentok sandaran kursi.
“Kampret!” Umpat gue meringis kesakitan sambil ngelus-ngelus kepala gue yang baru kepentok.
Setelah itu, gue duduk, mencoba menenggelamkan wajah dalam lipatan tangan. TIDUR dan,
“Heweofjhsdjtkht&*%$%$%@#!@!!”
Nggak tahu ini suara apa dan punya siapa. Gue mengangkat kepala gue malas, dan mencoba membuka mata. Ternyata Mina temen gue yang childish banget. Nggak tahu maksudnya apa barusan, rada kesel gue omelin dia.
“Heh! Min! Kamu bisa nggak sih nggak teriak-teriak dan bikin kesel orang sehari aja?!”
“Enggak!” Jawab Mina singkat dan justru terkesan nantang minta ditabok mulutnya pakai raket listrik.
“MONYET lo!” Umpat gue dan kembali menenggelamkan wajah, melanjutkan misi yang tertunda : TIDUR.
Enggak tahu gue udah merem berapa lama, tiba-tiba kelas udah rame. Anak-anak pada ribut. Gue noleh ke kanan, dan mengulap sedikit cairan di pipi gue. ILER? Bukan kampret! Air mata. Serius! Air mata! Beneran! Percaya deh! Gini lho, jadi kalau gue ngantuk banget, dengan sendirinya air mata gue akan keluar secara berlebih.  Alhamdulillaah banget air mata gue itu cair, coba kalau kristal? Bushet! Gue langsung pesen satu lusin banner yang bakalan gue pajang di setiap sisi rumah gue, yang isinya : “Percetakan kristal. Butuh kristal? Pencet hidung gue keras-keras. Butuh lebih banyak? Tampar muka gue pakai teflon.” Hiyaaa… Jangan sampai, itu mah menyiksa diri sendiri.
Ok, ok, abaikan yang di atas. Setelah gue mengulap cairan di pipi gue, gue bangun dan mendekat ke salah satu anak. Gue pilih Desti, dia anak yang kayaknya bakal jelas kalau gue tanya.
“Ada apa si Des?” Tanya gue sedikit berbisik.
“Itu, kamera digitalnya si Wenda ilang.” Jawab si  Desti dengan muka nelangsa.
Setelah denger jawaban si Desti, gue ngeliat muka si Wenda yang adem-ayem kayak nggak ada masalah. Lah, gue jadi bingung yang ilang tuh kameranya Desti apa Wenda sih? Kok kalau kameranya si Wenda, dia mukanya adem-ayem gitu. Lha, kenapa malah Desti yang mukanya nelangsa gitu?
“Wen, kameramu hilang?” Tanya gue sok ber-simpati padahal gue aslinya mentari lho, eh bukan Xl, eh salah tau, gue itu… Halah!
“Iya! Kamu malah dari tadi tidur!!!”
DZZIIGG! Gue berasa kena kamehamehanya Goku waktu denger jawaban Wenda yang nyolot dan kenceng banget gitu. Kuping gue berasa meler ngeluarin darah.
“Oh, maaf.” Kata gue menunduk lemah.
Setelah kena semprot si Wenda, gue langsung duduk meratapi nasib. “Kenapa gue tadi tidur Ya Allah? Coba kalau gue tadi nggak tidur, gue kan bisa pulang. Kabur. Dan nggak akan disemprot gitu. Tuhaaaaaaannn…
“Ya ampun! Bet! Peka dikit dong, aku lagi kehilangan sesuatu, bukannya bantu nyari malah duduk, mau tidur lagi!” Teriak Wenda yang membuat gue semakin melemah, sepertinya kekai gue sudah melemah dan pantes aja liur dari Wenda bisa menembus kekai gue dan mengenai tangan kiri gue.
WADZIIGG! Gue ngomong apa coba?
“Iya Wen, maaf. Aku cuma bingung harus ngapain. Kamu tahu kan kalau orang baru bangun tidur nyawanya masih belum sepenuhya terkumpul?” Tanya gue polos berusaha membuat pembelaan. Pembelaan absurd goblok!
                “Ya ya ya laaahh, udah cepet bantu cari aja! Kenapa harus ribut sih?!” Tiba-tiba Desti datang pakai kostum Spiderman dan mengedipkan sebelah matanya ke gue. SUMPAH! Desti kayak pahlawan gue, dia bagai Spiderman yang menyelamatkan gue dari moster kadal.  Ok, forget about the costume.
                Trithteen minutes later…
                “Sumpah, aku masih inget banget, terakhir kali aku pake tuh di sini!” Wenda berusaha meyakinkan anak sekelas dengan menunjuk-nunjuk meja guru.
                “Aahh… aku capek! Aku mau pulang ah!” Teriak Danu frustasi banget mukanya. Sebenernya nggak cuma dia aja yang frustasi, sekelas juga frustasi kali, lebih frusttasi lagi si Wenda. Hidungnya yang kecil itu sampai kembang-kempis dan mukanya yang putih jadi merah kayak pantat bayi direbus.
                “TADAAAAAA!!!!!” Yusra dengan tampang innoncence dan masih seger gitu nggak frustasi kayak anak-anak sekelas datang mengejutkan anak-anak yang lagi pada tertuduk lemas meratapi nasib sial mereka yang harus terjebak dalam kisah bodoh gue ini, eh? Kagak, maksudnya terjebak dalam situasi rumit ini.
                “Yusra?” Ucap Wenda lirih, dia menoleh ke arah Yusra dengan sebegitu dramatisnya. Pokoknya dibayangin aja ini adegan di sinetron. Matanya nggak lepas dari tangan Yusra yang menggenggam sesuatu, dan saat itu juga mata kamianak sekelas pun ikut tertuju pada tangan Yusra.
                “Damn! Jadi elo yang nyolong kamera si Wenda sampai gue harus kena semprot dia? KAMPRET!” Caci gue dengan berteriak di depan muka Yusra, otomatis anak-anak sekelas pada diem, hloh? Iya gue cuma berkhayal! Kagak mungkin gue setega itu ngatain temen sekelas gue.
                “Kok bisa di kamu Yus?” Tanya Wenda lembut. Iya nih bocah, berani galaknya sama selain Yusra doang. Tauk deh kenapa?!
                “Lho, si Btary emang nggak bilang ke kamu tadi?”
                DZIG! Kenapa nama gue disebut lagi?
                “Lho? Kok aku? Emang tadi kamu ngomong apa ke aku Yus?” Tanya gue bener-bener nggak paham maksud Yusra.
                “Tadi tuh waktu aku ngambil kameranya si Wenda aku bilang ke kamu, kamu malah ngomel nggak jelas!” jelas Yusra dengan menumpukan semua kesalahnya ke gue.
                “Ho lhaaa, Btary!” Latif tiba-tiba nyorakin gue, rada kaget jujur. SAKIT banget T_T
                “Aku tuh tidur Yus! Lagian kamu ada orang tidur diajak ngomong! Jelas nggak ngeh lah!” Balas gue membela diri.
                “Ya, mana aku tahu, lagian
                “Ok, enough! Iya-iya aku yang salah.. Maaf! Assalamu ‘alaikum!” Pasrah daripada kena semprot, mending gue pamit pulang aja.
                Gue menuruni anak tangga dengan sedikit dongkol karena disalah-salahin mulu, juga SAKIT! Bukannya saat Hari Kartini seorang wanita akan lebih merasa bahagia dan dihargai?  Hell! Hari Kartini gue absurddd…

The End :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketek Basah

Dika, tunggu Mas Adhit ya!

Tolong sadar, dan kejarlah! Larilah!