Selalu Begini



            Aku baru saja bangun tidur saat mendengar obrolan dari beberapa orang di luar kamarku. Kebetulan kamarku langsung menghadap ruang tamu. Itu sangat tidak nyaman bagiku. Tapi apa boleh buat, saat ayah membeli rumah yang sederhana ini dan langsung membagi ruangannya, aku yang kedapatan menempati ruang yang akhirnya dijadikan sebuah kamar oleh ibuku.
            Suara pria dan wanita. Ya, suara wanita itu adalah suara ibuku. Pikiranku sempat curiga. Tapi mengingat ibu adalah orang yang setia, pikiran itu segera kuhapus dan kubuang jauh-jauh. Pria itu terdengar sangat memakai unggah-ungguh saat berbicara dengan ibu. Pasti dia pria yang lebih muda dari ibu. Dia banyak bicara tentang kapal dan Amerika. Entahlah maksudnya apa.
            Bu, masuk ke kamarku. Sebentar saja. Aku malu untuk keluar.
            Setelah mengetik beberapa kata, segera aku kirim pesan itu ke nomor ibu.
            BIP. BIP.
            Itu suara ponsel ibu. Terdengar tidak jauh dariku.
            “Ah sial!” Umpatku pelan, saat menemukan ponsel ibu ada di balik bantal tempat tidurku. Aku baru ingat, tadi sebelum tidur aku asik bermain game yang ada di ponsel ibu.
            Aku segera membuka pesan yang tidak lain dariku dan menghapusnya. Kubuka profil ponsel ibu, ku-stel nada dering telpon masuk.
            “Ini pasti akan membuat ibu langsung masuk kamarku.” Pikirku senang.
            Ku dengar saat ponsel ibu berdering langkah ibu mendekat ke kamarku.
            “YES!” Sorakku dalam hati.
            Suara khas pintu terdengar, masuklah seorang wanita anggun keibuan yang sangat ku kenal.
            “Ma…”
            Belum selesai ibu bicara, aku segera memintanya diam dengan menempatkan  telunjukku di bibirku.
            “Siapa Bu?” Tanyaku pelan dan berbisik.
            “Oh. Tamu.” Jawab ibu. “Mana HP ibu?”
            “Bentar. Aku tau kalo itu tamu. Tapi siapa?” Aku menyembunyikan ponsel ibu di balik tubuh dengan menggenggamnya.
            “Mas Bagas.” Jawab ibu yang langsung merebut ponselnya dari tanganku.
            “Mas Bagas?” Tanyaku tak yakin.
            Ibu mengangguk, “sana temuin!” Perintahnya.
            Aku menggeleng. “Lihat Bu! Aku kucel, bajuku bau keringat, rambutku berantakan!” Tunjukku pada beberapa bagian yang kusebut.
            “Salah siapa? Masa anak cewek bangun tidur jam 7, nggak mandi. Terus jam 12 tidur lagi, eh baru bangun jam setengah 3 sore.” Sindir ibu.
            “Iya! Iya! Namanya juga liburan!” Balasku tidak mau mengalah.
            “Dah sana temuin. Bilang aja baru bangun dari tidur siang.”
            “Nggak!” Gelengku cepat dan segera mengusir ibu dari kamar setelah memintanya diam tentang keberadaanku.
            Lagi-lagi aku merebahkan tubuhku, menatap langit-langit kamarku yang penuh dengan coretan mungkin bekas penghuni yang dulu.
            Oh, Mas Bagas. Kenapa kau selalu datang di saat-saat yang tidak tepat bagiku? Waktu itu kau datang saat aku tidak di rumah. Waktu itu lagi, kau datang saat aku selesai bermain badminton, jelas tubuhku basah diguyur keringat. Waktu itu lagi dan lagi, intinya aku selalu tidak memiliki kesempatan untuk bertatap muka langsung denganmu. Sial!
Dan saat ini, lagi-lagi kau datang saat aku dalam keadaan benar-benar buruk. Mungkin di wajahku ini, ada bekas iler, ingus, atau apapun itu yang akan membuatmu ilfeel denganku pada jumpa kedua kita setelah pertemuan bodoh saat itu. Ah, aku benar-benar sial! Susah sekali sih, hanya untuk melihat langsung wajah pria tampan yang sangat mempesona itu?
KREK.
Pintu kamarku kembali dibuka, kali ini oleh adikku. Dasar tidak sopan!
“Mbak, buruan keluar! Mas Bagas lagi ada telpon dan keluar dari rumah sebentar.” Kata Dona adikku sok heboh.
“Really?” Tanyaku memastikan.
“Halah! Banyakan gaya deh! Sok nginggris lu Mbak! Orang Mas Bagas yang mau ke Amrik aja nggak sok kayak kamu!” Cibir Dona dengan memonyong-monyongkan bibirnya.
“Suka-suka!” Kataku pelan tepat di telinga Dona dan segera keluar dari kamar menuju kamar mandi dengan berlari.
Untung tadi pagi aku sempat berencana mau mandi,  jadi sudah ada satu stel baju yang tergantung di sini kamar mandi. Aku mandi byar-byur, tidak lupa menggosok gigi karena takutnya nanti saat aku mengucap salam pada Mas Bagas, dia tiba-tiba langsung pingsan mencium nafas nagaku.
Saat aku mandi, seseorang mengetuk pintu kamar mandi.
“Ada orang?” Tanya orang di balik pintu kamar mandi.
“Itu suara Mas Bagas!!!” Teriakku dalam hati.
“Ada!” Jawabku dengan suara di buat-buat. Aku tidak mau sampai Mas Bagas mengetahui kemalasanku ini. Sedikitpun aku tidak menginginkan Mas Bagas membatin,
“Cewek jam segini baru mandi satu kali?”
“Ah, tidak-tidak! Jangan sampai.” Aku menggelengkan kepala cepat.
Suara langkah kaki menjauhi kamar mandi terdengar, fiuh~ syukurlah.
Setelah mengenakan pakaian aku segera keluar dari kamar mandi, menuju kamar si Dona. Di sini tidak ada pelembab atau apapun itu. Yang ada hanya baby powder, minyak telon, dan baby perfume.
“Please deh Don, anak kelas 3 SD kenapa masih pakek punyanya bayi sih?” Batinku melihat barang-barang yang tergeletak rapi di meja rias Dona.
Apa boleh buat, terpaksa aku mengusapkan baby powder itu di wajahku. Aku sempat terbatuk karenanya. Aku alergi debu. Batuk itu berlanjut menjadi bersin-bersin kecil disambung lagi oleh batuk.
“Uhuk! Uhuk!” Dengan segala upaya aku menahan batukku, tidak mau Mas Bagas mendengarnya.
Sekali lagi aku memandang penampilanku dari cermin. Lumayan. Tidak terlihat habis mandi, tapi juga tidak terlihat kucel habis tidur. Semoga Mas Bagas tidak sampai berpikir tentang keduanya habis tidur dan mandi.
Aku keluar dari kamar Dona menuju pintu belakang, aku memiliki rencana untuk membuat Mas Bagas berpikir aku baru pulang bermain atau apalah yang penting tidak habis tidur atau mandi. Aku berjalan cepat menuju pintu utama di depan, setelah sampai aku segera masuk dan,
“Aku pu…”
Lho? Kok Mas Bagas nggak ada?
“Mbak Irgy telat! Mas Bagas udah pulang.” Kata Dona menjelaskan, mungkin dia melihat ekspresi bodohku mengetahui tidak adanya Mas Bagas sekarang. “Salah siapa mandi kelamaan? Padahal tadi Mas Bagas mau pipis lhooo… Coba kalo Mbak Irgy mandinya tadi cepet, keluar kamar mandi tiba-tiba ada pangeran tampan di hadapan Mbak Irgy.” Sambung Dona membuatku gondhok dan kesal.
“Tuh! Makanya jadi cewek jangan pemalas! Pagi-pagi mandi, trus cari kegiatan yang manfaat. Jangan malah tidur! Jadinya kan nyesel gini deh.” Cibir ibu, “kasian nggak bisa liat Mas Bagas. Hari ini dia keliatan keren lho…” Goda ibu yang membuatku semakin gondhok dan ingin menjebloskan kepalaku di tembok.
“Mbak Irgy sih! Mas Bagas tuh pulang gara-gara kebelet pipis tauk!” Kata Dona tidak henti-hentinya menyalahkan dan memojokkanku.
“AAAH!! APAPUN!” Teriakku kesal membalas semua kata-kata ibu dan Dona.
“Yee… Marah? Salah sendiri juga! Kasian deh, 2 tahun ini nggak bakal bisa ketemu Mas Bagas. Tujuan utamanya Mas Bagas ke sini kan mau pamitan! Besok dia udah berangkat ke Amrik lho Mbak…” Mulut Dona terus berkoar membesarkan gondhokku.
Dengan penyesalan dan beban berat membawa gondhok berat yang tak terkira ini, aku berjalan menuju kamar. Membuka pintunya dengan paksa dan menutupnya kasar, hingga menimbulkan suara keras. Aku membanting tubuhku di ranjang dengan masih mendengus kesal. Tak lama kemudian, aku menguap dan semuanya menjadi gelap. TIDUUURR…

Hahaha! Ini hanya curahan hati tentang kedongkolan saya yang selalu gagal bertatap muka langsung dengan “mas-mas” yang sering berkunjung ke rumah saya, tapi selalu tidak tepat keadaannya bagi saya. Ada saja halangan bagi saya. Akhirnya sampa detik ini ketika saya menulis cerpen abal-abal ini saya masih belum bisa liat muke ntu “mas-mas” yang ganteng secara deket, padahal dia ada jadwal berlayar beneran loh!— ke Amerika. Kalau kata Raditya Dika, hal yang mesti saya lakuin sekarang adalah ‘MATI’!
Selesai~
Terima Kasih :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketek Basah

Dika, tunggu Mas Adhit ya!

Tolong sadar, dan kejarlah! Larilah!