DRAFT VI

   Hai!
   Lama tak jumpa, karena sebuah insiden. Weks. Insiden. Hahaha. Jadi seminggu kemaren ceritanya sakit. Yup sakit. Sakit yang amat menyiksa. Yah, aku sakit cacar air. Entahlah, padahal jaman TK dulu udah pernah, tapi kenapa ini bisa kena lagi. Huft, sudahlah biarkan menjadi rahasia Tuhan #azg.
  Oke, kali ini bukan  mau cerita gimana sebab musababnya bisa kena cacar. Kali ini mau cerita tentang hari Jumat kemaren. Yup! Hari Jumat. Ada apa sih Jumat kemaren itu? Hm... Jadi kemaren hari Jumat ada acaranya anak Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya. Acara apa? Nama acaranya DRAFT VI. Dentistry Art and Festival VI.
   Cerita dimulai dari persiapannya...
   Jumat siang yang panas kala itu, seorang bocah berjalan menyusuri jembatan menuju kampusnya. Tin.. Tin... Tin... Suara klakson kendaaran mengiri setiap langkah bocah itu. Ia tiba di ujung jembatan dan harus menyebrangi jalan raya untuk sampai di gerbang kampusnya. Hap! Akhirnya dia berhasil menyebrang.
   Terik matahari tak menyurutkan semangatnya. Dia terus melangkah menuju gedung fakultasnya. Sampai dia bertemu dua orang teman kelasnya.
   "Hai Bet!"
   "Hai *skip*! Hai *skip*!"
   Wkwkwkwk. Ini apa sih? Lama banget bakalannya kalo cara ceritanya gini. Oke langsung aja. Hari itu ada ujian SL (Skill Learning). Sampai di kelas, langsung duduk. Eh disuruh keluar lagi sama pengawasnya karena katanya kursinya kurang. Oke deh nurut, keluar kelas.  Di luar kelas, anak-anak heboh ngomongin tentang dress code DRAFT VI nanti, yaitu warna pastel. Hari itu emang aku langsung pakai dress codenya, dan nggak tau bener apa enggak, Wks. Peduli! Emang kalo salah bakal disuruh lepas baju terus goyang-goyang bugil? Hahah!
   "Udah pastel sih, tapi terlalu rame, kan roknya udah bunga-bunga, masa bajunya bunga-bunga juga?"
   Salah seorang anak ngomentarin baju ku. Hm... Thanks sist udah ngomen. Tapi gue nggak peduli tuh. Kalo salah terus disuruh pulang, yaudah! Weks.
   Singkat cerita akhirnya masuk kelas lagi.  Dan, hell! Soal macam apa ini. Yah, semua kuserahkan pada yang Mahakuasa, semoga Ia memberikan yang terbaik untukku. Aamiin.
   Dan akhirnya ujian kelar. Keluar kelas. Kantin bentar cari makan. Kelar makan, ke kamar mandi nemenin temen buat ganti baju. Entahlah apa yang mereka pikirkan sampai harus repot-repot seperti itu.
   Kelar ganti baju. Em, kalo aku sih wudhu aja ya.  Kita langsung sholat dhuhur. Kelar sholat, nah ini nih, aku melihat sebuah fenomena unik yang memang seharusnya terjadi.
   Aku merasa berada diantara wanita. Ya wanita. Wanita sesungguhnya! Mereka menggunakan pakaian terbaik mereka. Bahkan banyak diantara mereka yang rela mengeluarkan berlembar kertas merah dengan gambar Pak Soekarno untuk menampilkan yang terbaik dari diri mereka.
   Mereka tamoak cantik dan anggun. Beda denganku yang tampak biasa saja, bahkan nyaris dikatakan gembel. *Please, izinkan gue sok puitis kali ini*. Gaun-gaun indah yang memang pantas melekat di kulit-kulit cantik milik wanita-wanita itu. 
   Kupikir sampai disitu saja. Ternyata tidak! Salah besar aku mengira bahwa ini hanyalah akan menjadi acara biasa. Lihat yang mereka persiapkan. Tidak hanya gaun cantik dengan alas kaki cantik pula. Wajah mereka tak luput dari polesan indah yang menambah kecantikan mereka. Lipstick, eyeliner, bedak, dan banyak macam lagi yang sampai aku tak tahu apa nama barang itu.
   Aku mencoba melihat wajahku di cermin, Dan, hahaha. Aku hanya bisa tertawa miris melihatnya. Bagaimana bisa, wajah yang selama ini ku jaga kebersihannya, jangan sampai muncul bekas jerawat dan macam halnya, rusak seketika hanya karena bekas cacar yang indah itu. Pada saat acara ini, apa iya aku harus menunjukkan wajah ini. Damn! Aku kesal, namun juga aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sudahlah, sudah!
   Aku kembali mengamati orang-orang di sekelilingku. Aku melihat, bocah yang selama ini terlihat biasa saja di kelas kini berubah menjadi WOW! Dia menggenakan make up dan sebagainya. Benar-benar di luar dugaan. Dan bocah yang ku kira selama ini tidak mempedulikan penampilan, bahkan ia berdandan heboh untuk acara ini.
   Oke, aku melihat keadaan dimana orang-orang pusing dengan apa yang ia kenakan dan apa yang ada di wajahnya. Semua sibuk memikirkan penampilan. Semua sibuk melukis di wajah. Semua sibuk. Sibuk. Sibuk. Sibuk.
   Aku mencoba menjadi mereka. Hahahaha. Aku memegang sebuah pelembab bibir. Ku coba memoleskan pada bibirku. Dan hasilnya. Aku butuh tiga lembar tisu. Tiga lembar tisu please... Ini tidak pantas ada di wajahku. 
   Saat aku menggenggam tisu bekas untuk menghapus apa yang ada di bibirku tadi, seseorang datang mencari sebuah tisu. Ku tanya untuk apa, jawabnya untuk para anak laki-laki. Mereka juga berdandan. Damn! Sebenarnya apa yang terjad? Aku pikir anak laki-laki akan cuek dan berpenampilan apa adanya. Ternyata? Hm... Aku jadi rindu dengan masa SMA, dimana teman laki-laki di kelasku benar-benar tidak peduli dengan apa yang mereka pakai. Dan justru itu yang membuat mereka tampak keren. Being different. Tapi apa yang kulihat sekarang??? 
   Aku mungkin salah jika merasakan ada sesuatu yang memaksa keluar dari perutku ketika tahu bahwa anak laki-lakipun ikut heboh memikirkan penampilan. Ya, seharusnya aku senang melihat anak laki-laki seperti itu. Seharusnya! Tapi yang kurasa saat itu... Entahlah. Mungkin aku hanya terkejut dengan keadaan dimana seorang laki-laki lebih heboh dibandingkan denganku. Oke, mungkin aku yang abnormal. Yah, aku yang salah. Salah. Salah. Hahaha. But being normal is too boring. *oke grammar salah dan sebagainya. Weks.*
   Pada akhirnya kita cuzzz ke tekape. Ke tempat acara diselenggarakan. Sampai disana aku merasa paling udik. Paling aneh dan sebagainya. Yah, gimana nggak aneh, di acara seperti ini, dimana semua berlomba-lomba tampil cantik dan keren, aku justru berpernampilan biasa saja dan malah menggunakan masker untuk menutupi wajahku.
   Tapi, it's oke. Karena menjadi normal terlalu membosankan. Acara berjalan seperti biasanya. Malas aku menceritakannya. Intinya semua ini adalah ajang modus.  Oke kembali ke bahasa normal. Semua ngajak foto orang yang disuka atau orang yang dianggap populer. Foto. Foto. Foto. Oke, mereka nggak salah kok. Itu wajar! Wajar! Yang salah aku. Kenapa aku merasa jijik atau agak was-was ketika ada anak cewek yang ngajak anak cowok foto sampai narik-narik baju dan sebagainya. Entahlah. Was-was aja lihatnya. Jijik sih enggak ya.  Rasanya takut aja. Hmm... Bukan takut. Tapi... Ah, entahlah! Aku hanya tidak suka melihat hal itiu. Aku bukan cemburu atau iri. Tapi aku merasa jika ada wanita seperti itu, sebenarnya dia sedang menginjak-injak harkat diri seorang wanita!!! Ah,kesal! Tidak, tidak. Aku bukan kesal dengan mereka. Aku kesal dengan diriku sendiri yang tidak bisa menjadi seperti biasa. Maksudku, menjadi biasa saja seperti mereka. Tidak terlalu memikirkan ini dan itu ketika berhadapan dengan laki-laki.
   Oh my God! Aku rindu masa-masa SMA. Dulu aku juga tidak normal, tapi aku tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi saat aku berhadapan dengan anak-anak laki-laki. Dosakah? Zinakah? Mahram? Dan sebagainya.  Ya, kenapa sekarang aku seperti ini? Aku takut dengan anak laki-laki. I mean... hm... aku takut dosa. Bukan! Bukan! Terlalu munafik. I mean... aku sekarang menjadi lebih risih dengan kehadiran mereka. Hm... Bukan, bukan! Ah, entahlah. Jika aku mengingat dulu, masa SMA, aku sebenarnya miris. Kenapa aku bisa sebegitu dekatnya dengan makhluk itu. AH, sudahlah! Laki-laki. Laki-laki. Mereka memang diciptakan untuk menjadi pasangan wanita. TAPI KETIKA SUDAH TIBA SAATNYA! 
   Oke, kenapa jadi ngomongin itu sih? Ah! Intinya, acara kemaren dijadikan ajang. Ajang untuk mendekati orang yang mereka suka. Ajang untuk menyatakan perasaan, Dan ajang untuk makan gratis bagi para eater. Hahaha. Free eater. Contohnya, AKU! Tapi jujur, acara kemaren itu, aku tidak menikmati apa yang ada. Tapi secara keseluruhan, acaranya keren. Semoga tahun depan, pas tahunnya angkatanku acarnya bakal lebih great lagi. Aamiin.
   Oke. Sudah larut malam. Aku juga udah capek mikirin hari kemaren. Nginget-nginget apa yang ada. Intinya kemaren keren. Dah, gitu aja!
   Wkwkwkwk.

   Ini pas acara pelepasan balon.

   Keren kan ya sebenernya acaranya? Ya, keren kalau kamu bisa menikmati acaranya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketek Basah

Dika, tunggu Mas Adhit ya!

Tolong sadar, dan kejarlah! Larilah!