Ibu. . .
Rasanya seperti kehilangan semuanya saat orang yang kusayangi pergi. Yah, dia pergi. Walau tidak selamanya, tapi tidak ada dia di sisiku. Aku bagai orang lemah tanpanya. Air mataku masih terus membanjir dan entah kapan akan berhenti. Mungkin tidak berhenti, tapi tergantikan dengan darah yang mengalir. “Ibuuu…” Ku sebut namanya dalam tangisku. Ibuku pergi meninggalkanku di rumah setan ini. Tidak, dia tidak jahat sedikitpun. Egoispun tidak. Aku maklum, dia juga sama stressnya seperti aku, tapi dia lebih. Bagaimana tidak, setiap harinya dia harus mendengar cacian dan hinaan dari laki-laki yang sempat ku sebut ‘bapak’. Tid...