Mungkin Aku Suka...
Ini terlalu
sakit untuk diceritakan, tapi juga terlalu berat untuk dipendam sendiri.
Segelintir orang mungkin telah mengetahui hal ini, tapi tidak sepenuhnya. Sulit,
bahkan sangat sulit menceritakan hal ini secara detail. Selalu ada yang
ditutup-tutupi. Aku tidak tahu harus memulai semua dari mana dan saat kapan.
Yah, mungkin saat itu…
Saat
dimana kami masih sama-sama polos. Tidak mengetahui apa itu cinta sebenarnya,
dan bagaimana rupanya. Yang kutahu tentang cinta adalah angka delapan. Ya angka
delapan, meski berliku dan berkelok jika cinta itu benar, maka takkan pernah
terputus. Setidaknya itulah yang ku tahu, hasil dari aku membaca novel-novel
remaja maupun dewasa.
Aku
mengenal sosok nya―Hussein, sebagai anak laki-laki
pendiam. Dia jarang sekali bicara, baik di kelas maupun di luar sekolah. ―Saat itu kami masih duduk di bangku SMA, kelas X―. Kami tidak terlalu akrab, meski sudah beberapa kali kami
disatukan dalam sebuah kelompok belajar. Hussein anak laik-laki yang misterius.
Diam seperti orang gagu. Aku risih dengannya, dengan kebisuannya itu. Dia hanya
berbicara saat aku paksa berbicara.
Secara
fisik, Hussein adalah anak laki-laki yang memiliki perawakan tidak terlalu
tinggi atau pun pendek. Tubuhnya bisa dibilang ceking tak berotot. Rambutnya
tegak―berdiri seadanya. Dia memiliki bibir yang
tebal, mungkin karena bibirnya ini dia
jarang bicara. Pikirku konyol saat itu. Hidungnya mancung, sangat mancung
sehingga bibirnya yang tebal itu tidak terlalu mencolok―jika
tidak diamati. Kulitnya coklat bersih. Kuku-kukunya bagaikan kumpulan mutiara. Dia anak laki-laki yang sangat terurus.
Ya,
aku terlalu sering mengamati anak laki-laki itu. Dari caranya berjalan aku pun
hapal. Dari suaranya yang berat dan dalam―yang
sangat ku sukai. Awalnya hanya karena risih dan penasaran dengan kebisuannya ―berusaha mencari tahu sebabnya― itu
tapi lama-lama menjadi sebuah rutinitas yang sulit untuk ditanggalkan. Aku pun
menyatakan diri sebagai stalker-nya.
Aku mulai mencari tahu alamat rumahnya―rupanya dia
anak orang kaya. Pantas dia sangat
terurus! Rumahnya megah, walau hanya sekali megah dari rumahku. Aku juga
mencari tahu apa benda dan warna favoritnya. Semuanya ku cari tahu, bahkan aku
tahu siapa gadis yang disukainya, tentunya bukan aku!
Suatu
hari Yala―teman satu kelasku juga― memergokiku saat aku sedang membuat sketsa wajah Hussein.
Terpaksa aku mengaku. Tapi saat Yala menuduh bahwa aku menyukai Hussein,
buru-buru aku menolak tuduhan itu.
“Aku
memang stalkernya, tapi aku tidak menyukai Hussein.” Tegasku, tapi Yala terus
memojokkan ku. Sehingga aku menyerah,
“Baiklah…
aku kagum. Ingat kagum! Hanya kagum tidak lebih!” Ucapku sambil mendelikkan
mata, otot-otot mataku menegang. Namun tubuhku lemas, geli.
2
semester berlalu akhirnya. Aku naik ke kelas XI. Perasaan senang dan gelisah
bercampur menjadi satu. Aku senang memiliki adik kelas―yang
bisa ku kerjai. Aku gelisah jika tidak bisa satu kelas kembali bersama Hussein.
Dan ternyata Dewi Fortune sedang memihakku, aku kembali sekelas dengan Hussein!
Setelah
libur kenaikkan kelas―selama 2 minggu― berlalu, rupanya banyak perubahan pada diri Hussein. Dia
sedikit mau bercanda, tidak lagi banyak berdiam. Dia juga menjadi sedikit lebih
tinggi. Semua itu bagus, menurutku. Satu yang mebuatku kesal, tiba-tiba dia
merubah gaya rambutnya, merubah semua favoritnya, dan itu berarti pengintaian
ku selama ini sia-sia. NOL! Tingkah Hussein pun mulai menyebalkan, dia mulai
berani meledekku ‘si hidung botol’. Ah! Entah karena hidungku yang mirip botol
atau karena hidungku yang sering mengeluarkan cairan kental saat udara dingin.
Intinya Hussein mulai banyak bicara dan bertingkah.
Awalnya
memang menyebalkan, tapi lama-lama aku menikmati hal itu. Aku menjadi akrab
dengan Hussein, apalagi saat aku membantunya menyatakan perasaannya kepada
gadis yang telah lama disukainya, kami pun bertambah akrab. Aku menganggapnya
sebagai sahabat, sebaliknya juga begitu. Tidak sedikitpun aku memendam rasa
suka atau apapun itu kepada Hussein, karena dia sahabatku.
Kami
pun terus bersahabat―walau di dalam kelas atau
sekolahan tidak kami tampakkan―. Aku bisa
merasakan sakit yang luar biasa sama seperti yang dirasakan Hussein saat dia
tahu bahwa gadis idamannya itu hanya mempermainkannya saja. Aku merasa
bersalah, entahlah untuk apa. Saat itu Hussein menjadi semakin dekat denganku.
Hingga kenaikan kelas XII, lagi-lagi kami harus satu kelompok dalam pelajaran
kimia.
Di kelas XII
mungkin aku yang banyak berubah, aku menjadi sering marah-marah, memaki Hussein
tanpa sebab, menyamakannya dengan babi dungu atau apapun itu yang buruk.
Entahlah apa alasannya, hanya saja saat melihat Hussein yang mulai genit
berdekatan dengan gadis lain, aku ingin menimpuknya dengan tabung erlenmeyer
atau cairan raksa ke wajah gadis yang sedang berdekatan dengannya. Kami jadi
sering memaki satu sama lain.
“Kamu, babi
dungu gosong!” Bentakku saat meminta bagian tugas yang harus dikerjakan
Hussein, tapi ternyata belum juga diselesaikannya.
“Kenapa sih
kamu selalu menyalahkan aku?” Tanyanya keras, tidak terima disalahkan. “Dasar
wanita penggerutu… bla..bla..bla..”
Aku muak
medengar omongan Hussein dan meninggalkannya di kantin bersama gadis-gadisnya. Menjijikkan.
Malam hari
setelah kejadian itu, aku berdiam diri di balkon rumah, menatap langit. Bintang
berkilauan―berkedap-kedip. Tapi ada dua bintang yang
terlihat semu, kuandaikan itu aku dan Hussein. Aku membuka ponsel ku, di dalam
album foto banyak gambar Hussein ―yang ku ambil secara diam-diam― saat dia
sedang beraktivitas, seperti mendendang bola saat bermain futsal, makan dengan
lahap setelah jam olahraga, tidur tanpa ekspresi saat pelajaran bahasa
indonesia, dan banyak lagi, seolah-olah gambar itu bergerak menjadi sebuah film
yang diputar di otakku. Aku tertawa kecil mengingatnya, dan aku sadar bahwa
ternyata aku memang menyukainya. Ya
Hussein, kau berhasil membuatku jatuh cinta.
Tiba pada suatu hari, 3 hari yang lalu tepatnya. Aku tidak mengerti
apakah yang ku lakukan ini sengaja atau tidak, aku memakinya dan memukul
tempurung lutunya dengan tabung erlenmeyer hingga tabung itu pecah melukai
kulit Hussein saat setelah berhasil merobek sedikit celananya pada bagian
lutut. Hussein pingsan. Aku lupa bahwa anak laki-laki itu ternyata phobia
darah. Konyol memang.
Setelah meminta Bimo, Deni, dan Luki untuk membawa Hussein ke UKS, aku
menjadi merasa sangat bersalah. Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku setemperament itu? Padahal
Hussein hanya menyinggung soal Jessi, adik kelas yang memang cantik itu.
Sehari setelah itu, Hussein menghindariku, benar-benar enggan
mendekatiku. Dia kembali mejadi anak laki-laki yang pendiam sama seperti awal
aku mengenalnya. Aku sangat menyesal atas ini. Apalagi saat melihat Hussein
berjalan pincang karena kulit lutunya yang sobek terkena pecahan kaca tabung erlenmeyer.
Kuputuskan untuk meminta maaf langsung, tapi dia selalu menghindar.
Ya, pagi tadi aku datang ke tempat dia biasa bermain futsal, rupanya
dia tidak datang, mungkin karena lukanya itu. Kemudian aku pergi ke penyewaan
komik, barang kali setelah Hussein kembali menjadi pendiam hobinya membaca
komik pun kembali, tapi nyatanya tidak. Lalu aku pergi ke tempat pemancingan
ikan, Hussein sangat menyukai ketika ada orang yang memancing berkata ‘strike!’, rupanya juga tidak ada. Aku
menyerah, jarak tiga tempat yang ku kunjungi tadi bekisar 20 kilometeran dan
aku sudah menghabiskan lebih dari 2 liter bensin motorku. Pokoknya Hussein
harus mengganti ini! Ah, hampir saja aku lupa, kini ―mungkin― kami bukanlah
sahabat lagi. Hussein sangat ketakutan saat melihatku, aku ingat itu.
Saat perjalanan pulang menuju rumah, aku melihat Hussein sedang duduk
diam di sebuah kafe internet dengan laptop di hadapannya. Aku berhenti,
memarkir motorku tidak jauh dari situ. Hussein melihat kedatanganku, dan dia
seperti ingin kabur. Aku hampir saja tertawa ―membayangkan aku dengan Hussein
sedang bermain peran menjadi si tukang hutang dengan lintah darat― jika saja
tidak ingat bahwa ini serius.
“Hussein!” Aku berteriak, memanggil Hussein. Berusaha mencegahnya
pergi.
Hussein menoleh, akhirnya dia kembali duduk. Aku segera mendekat.
“Kamu marah dengan ku?” Tanyaku sambil mengulurkan tangan, berniat
meminta maaf.
Hussein diam. Mulutnya terkatup rapat.
“Jawab Hussein!” Tiba-tiba emosiku muncul, aku menggebrak meja,
membuat Hussein dengan laptopnya sama-sama sedikit terpental.
“Cukup!” Tiba-tiba Hussein berdiri, meniru ku menggebrak meja.
Laptopnya terpental lebih tinggi kemudian kembali menempel ke meja. “Kamu,
cewek kasar! Mulutmu kasar! Tingkahmu kasar!” Bentak Hussein membuatku
terkejut. “Kamu tahu? Sekian lama aku bersabar, menghargaimu sebagai seorang
teman, untuk tidak mengatakan ini. Tapi
akhirnya kamu yang memaksanya. Sebenarnya apa sih mau mu? Mengataiku babi
dungu, monyet tak berotak dan apapun itu, kamu pikir itu tidak menyakitkan? Dan
kemarin, kamu tiba-tiba memukulku dengan tabung erlenmeyer. Apa sih maksudnya?
Dasar cewek kasar!”
“Hussein―”
“Nggak! Nggak! Aku nggak suka namaku dipanggil sama cewek kasar kayak
kamu! Ku pikir kita bisa menjadi teman yang baik, tapi rupanya kamu menakutkan!
Haha…” Hussein tertawa meledekku.
Saat itu juga aku merasakan ada tombak yang menembus dadaku.
Menyisakan rasa sakit yang kemudian disirami oleh perasan limun. Ternyata
selama ini aku sangat buruk di mata Hussein.
“Sudah! Aku tidak mau mengenalmu lagi. Jika aku terus berdekatan
denganmu, bisa-bisa tidak hanya lututku saja yang sobek, tapi seluruh tubuhku
remuk olehmu!” Maki Hussein sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku yang
masih tercengang.
“Tunggu!” Aku segera sadar dan mencegah Hussein pergi, “kamu tahu
Hussein―?”
Belum sempat mendengar kata selanjutnya, Hussein sudah mejawab, “aku
tidak mau tahu!” Dan akhirnya dia benar-benar pergi.
Ya, pagi tadi benar-benar menyakitkan. Aku menjadi malu pada diriku
sendiri dan pada Hussein. Aku malu, ternyata aku sangat buruk di mata Hussein.
Aku kasar, dan temperament. Rupanya Hussein sudah berniat meninggalkanku sejak
lama, dia kesal dengan ulahku. Bosan dicaciku. Tapi kupikir semua itu memiliki
alasan, atas apa yang telah ku lakukan ini, semua karena…
To : Hussein
Kamu tahu Hussein aku baru sadar
bahwa aku melakukan semua ini karena aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Aku
butuh perhatianmu. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, agar perhatianmu
hanya untukku. Aku tidak ingin perhatianmu beralih dariku. Aku hanya ingin di
matamu hanya ada aku, seperti kamu di mata ku. Ya, kedengarannya memang aneh,
namun semua ini benar adanya. Tapi ku rasa semua ini terlambat, kau terlanjur
membenciku. Maaf.
Selamat tinggal kisah lama,
memang kadang semua tak harus sesuai dan sejalan, ku harap kita benar-benar
tidak akan pernah bertemu kembali. Aku ingin kau lupakan aku dan semuanya… Maaf dan Terima Kasih untuk waktumu, senyummu,
tawammu, tatapan matamu yang meneduhkan dan segalanya yang telah kau beri.
20 Februari 2002
Osqia
Komentar
Posting Komentar